Saling Belajar dan Berbagi Kabar

2015


(kabargumelar). Gerimis yang turun dengan tiba-tiba membuat para pengunjung bergegas mencari tempat berteduh. Berharap buliran air hujan tidak terlalu lama mengganggu rasa penasaran mereka tentang tempat yang baru saja diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarno Putri. Benar saja, sebentar kemudian gerimispun berhenti, pengunjungpun kembali bertebaran memuaskan rasa ingin tahu mereka, atau sekedar berfoto dan ber-selfie ria dengan latar belakang warna-warni bunga di Kebun Raya Baturraden.

Kebun Raya Baturraden adalah lokasi wisata baru yang jaraknya kurang lebih 1 km dari Gerbang Utama Wana Wisata Baturraden. Dengan suhu berkisar antara 26-30 derajat Celcius, tak heran jika tempat ini mempunyai curah hujan tergolong tinggi yaitu 5.000-6.174 mm/th.

Tak perlu menguras kocek terlalu banyak untuk dapat berkunjung ke tempat ini, cukup dengan membeli tiket sebesar 14 ribu rupiah (untuk 1 orang), kita sudah bisa menikmati bunga warna-warni dan tanaman langka yang tumbuh subur di atas tanah latosol yang berwarna merah kecoklatan. Bunga dan tumbuhan aneka warna siap memanjakan mata kita, terlebih bagi yang hobi fotografi sangat tepat untuk memenuhi rasa haus mereka akan tempat yang eksotis.

Namun sayang, lokawisata yang berada tepat di pertigaan menuju ke arah Pancuran Pitu ini belum siap menampung membludaknya pengunjung. Sarana dan prasarana penunjang belum terpenuhi dengan baik, sempitnya lokasi parkir membuat kendaraan pengunjung terpakir di pinggir jalan sehingga mengganggu lalu lintas ke arah Pancuran Pitu. "Mungkin karena tempat ini masih dalam proses pembangunan, jadi masih baru dipersiapkan segala sesuatunya", ujar salah seorang pengunjung. Pengaturan parkir kendaraan masih sekenanya, dan pengunjungpun harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar 3 ribu rupiah untuk Jasa Tunggu kendaraan.(Wizteguh Nugroos)


Gumelar (19/12/15). Hujan yang mengguyur Gumelar semenjak sore hari akhirnya berhenti  tepat pukul 20.00 WIB, memberi kesempatan bagi warga Desa Gumelar untuk beranjak menuju Balai Desa Gumelar tempat di mana Pagelaran Wayang Kulit digelar. Satu persatu pengunjung memadati Aula Balai Desa seiring dimulainya rangkaian acara demi acara yang dipersiapkan oleh Panitia.

Sebuah acara yang bisa dikatakan cukup spektakuler, bukan soal Pagelaran Wayang dengan dalang ki Rasito, dalang asli warga Gumelar  yang sudah tak asing bagi mata dan telinga kita, namun latar belakang digelarnya Hajatan ini yang menarik untuk disimak. Seperti dituturkan oleh Ketua Panitia Sinung Tri Marhaendro, S.Pd. saat memberikan sambutan, bahwa acara ini diselenggarakan dalam rangka  memperingati hari Ulang Tahun Linmas (Hansip jaman dulu) yang ke-53. “Ini adalah tanda penghormatan dari pemerintah Desa atas kinerja barisan Linmas selama ini kepada masyarakat,” ujarnya.


Sungguh latar belakang yang jarang, bahkan mungkin tidak pernah terdengar sebelumnya. Menariknya lagi acara yang berbugjet sekitar 15 jutaan rupiah ini tidak sedikitpun mengambil dari Keuangan Desa sehingga tidak akan mengganggu proses dan aktivitas Desa. Dijelaskan oleh Kepala Desa Gumelar Susilo Urip Suprapto, S.Si., bahwa sumber dana untuk acara tersebut adalah dari bantuan para pengusaha dan donatur yang ada di wilayah Desa Gumelar. “Bahkan saking penginnya menyelenggarakan acara ini, para perangkat desa pun semuanya ikut urunan termasuk saya,” ungkapnya saat memberi sambutan di atas panggung.


Selain memperingati Hari Ulang Tahun Linmas, acara yang dipersiapkan selama lebih dari 8 bulan ini juga sekaligus tasyakuran atas selesainya pembangunan untuk tahun anggaran 2015. Menurut Prapto, begitu Kepala Desa ini biasa disapa, bahwa pembangunan selama tahun 2015 di Desa Gumelar ini sudah semakin merata dan mencakup berbagai sarana dan prasarana. “Di antaranya adalah pembangunan jalan lingkungan, pembangunan talud, pembangunan jaringan irigasi, perbaikan bangunan TK  Pertiwi, dan itu tersebar di seluruh wilayah Desa Gumelar,” jelasnya.
Malam kian merambat, para penonton yang didominasi kaum adam ini semakin larut dalam cerita wayang yang mengambil judul 'Semar Gugat', alunan gending dan lengkingan suara sinden menambah kehangatan suasana.

Oleh: Wizteguh Nugroo


Cilangkap (20/12/15). Lantunan shalawat mengiringi cerahnya pagi di Desa Cilangkap Kecamatan Gumelar. Alam seakan paham dan mengerti akan apa yang sedang dilakukan muslimin dan muslimah dalam rangka mengagungkan Tuhan dan Nabinya. Seperti diketahui Gerakan Pemuda Anshor  Desa Cilangkap Kecamatan Gumelar,  Minggu 20-12-2015 mengadakan acara Prestisius bertajuk Gebyar Shalawat dan Pengajian Akbar memperingati Maulid Nabi besar Muhammad SAW.

Gambar 1. Suasana Gebyar Shalawat

Acara yang dimulai Pukul 08.00 WIB ini diikuti oleh sekitar 28 Grup Hadroh terdiri dari 22 Grup dari wilayah Kecamatan Gumelar dan 6 Grup dari Kecamatan Ajibarang ini mengambil tempat di Aula Balai Desa Cilangkap.

Seperti dituturkan Sukirwono selaku Ketua Panitia bahwa acara yang dibesut oleh Jamm’iyyah Sholawat Simtudhuror as-Syauqi GP Anshor Cilangkap ini akan berlangsung hingga malam hari. "Untuk siang hari khusus acara semacam Parade Hadroh, dilanjut malam harinya akan ada Pengajian Akbar Nada dan Dakwah yang menghadirkan beliau bapak Kyai Mualim S.Pd.I pengasuh Ponpes Nurul Hikmah Jatisawit Bumiayu,” jelasnya.

Tidak hanya itu saja, untuk semakin memberikan manfaat nyata kepada masyarakat, pihak Panitia juga akan memberikan santunan kepada 16 anak yatim yang ada di wilayah Kecamatan Gumelar yang akan dilaksanakan sebelum acara Pengajian Akbar digelar.(WN)


(Gumelar, 19/12/15). Sabtu pahing yang cerah di Desa Gumelar. Lalu lalang kendaraan dan para pengunjung pasar pahing semakin rapat, sementara bergeser ke timur sedikit sebuah acara sedang dipersiapkan untuk digelar. Jalan sehat untuk masyarakat Kecamatan Gumelar akan dilaksanakan hari ini sesuai jadwal tercantum pukul 7.30 pagi. Satu persatu peserta mulai berdatangan mengepung Kantor BKAD eks PNPM yang baru dibangun untuk mengambil kupon tanda peserta. Acara Jalan Sehat ini sendiri dihelat dalam rangka Peresmian Kantor  mereka yang berlokasi sekitar 100 meter dari pertigaan Kecamatan Gumelar ke arah barat.


Gambar 1. Peserta menyemut di sekitar Panggung

Melewati pukul 7.30 acara belum juga dimulai, hiburan organ tunggal menjadi pelipur kejenuhan beberapa peserta yang mulai tak sabar untuk mengikuti acara, sementara sebagian yang lain mengunjungi stan-stan pameran pegiat UMKM dari beberapa Desa sebagai Mitra UPK Eks PNPM-MP.

Akhirnya pukul 9.00 tepat acara dimulai, diawali dengan Pemotongan Pita oleh Camat Gumelar Gatot P.U.H.A., S.H. sebagai tanda diresmikannya Kantor BKAD dilanjutkan dengan pelepasan peserta Jalan Sehat dengan pengibaran bendera Start. Lebih dari 500 peserta berjalan menyemut ke arah barat menuju rute yang sudah ditentukan. Melewati Pasar Pahing, kemudian menuju ke arah Terminal Gumelar, lalu memutar ke timur melewati Tugu dan berbalik arah ke arah kantor Kecamatan.

Sesampai di garis Finish peserta disambut dengan hiburan kesenian Kentongan. Dua lagu yang dibawakan grup kentongan Wulung Maju asal Desa Tlaga ini cukup menghibur para peserta yang sudah berkeringat, sebelum kemudian acara dilanjut untuk pembagian hadiah doorprize yang disediakan panitia.


Gambar 2. Salah satu hadiah doorprize

Wahyu Salah seorang panitia menuturkan bahwa hadiah doorprize yang disediakan  jumlahnya cukup banyak dari mulai payung, jam dinding, sepeda, kipas angin kulkas dan barang elektronik lainnya. "Mudah-mudahan acara ini cukup menghibur masyarakat, karena tujuan kami mengadakan acara ini adalah untuk menghibur masyarakat sebagai mitra usaha kami, agar hubungan kami semakin dekat dan bisa saling bersinergi dalam kemajuan perekonomian di wilayah Kecamatan Gumelar," tutupnya.(WN)




Mendung hitam menggelayut sedikit mengerikan, sejurus kemudian menjatuhkan air hujan saat kami baru tiba di Terminal Wonosobo, saat itu waktu menunjukan pukul 16.30 WIB. Saya bersama lima orang teman dari 4 Desa berbeda berangkat dari Kecamatan Gumelar. Keberangkatan kami adalah dalam rangka ingin mengikuti acara Jambore Desa Nusantara 2015 yang berlokasi di Desa Wulungsari, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo. Sebenarnya peserta dari Kecamatan Gumelar berjumlah 12 orang tapi terbagi menjadi 2 rombongan, rombongan pertama berangkat naik bis, yang kedua menggunakan mobil pribadi. Dan kami adalah rombongan pertama yang berangkat dengan naik bis.

Sejenak beristirahat dan menjalankan sholat Ashar saya lalu menghubungi Panitia acara mengabarkan perihal kedatangan kami dan agar segera dikirim mobil jemputan seperti yang dijanjikan. Beberapa saat menunggu kami isi dengan cerita menarik tentang Potensi Desa Masing-masing yang tentunya diselingi canda  mengocok perut, sementara sekonyong-konyong datang seorang pria yang setelah ngobrol ke sana ke mari berasal dari Bandung dan juga akan menghadiri acara tersebut.

Waktu terus bergulir, air terus mengalir dari langit dan dingin yang menyergap menghadirkan tembang keroncongan di wilayah perut kami, sementara mobil jemputan yang kami tunggu tak kunjung menampakkan batang bampernya. ''Sue temen yah kang jemputane, kalas kencot kielah?'' kata seorang teman kepada teman lainnya.

Ba'da Isya sekitar pukul 19.10 WIB, jemputan akhirnya datang, kami ber enam plus satu teman baru kami dari Bandung langsung naik ke mobil. Sekitar 15 menit perjalanan akhirnya kami sampai di lokasi acara, beberapa rekan panitia menghampiri kami untuk kemudian memberikan payung agar tidak kehujanan, sungguh penyambutan yang sangat ramah. Setelah melakukan registrasi peserta kami langsung diantar ke venue utama Jambore Desa, namun terlebih dulu harus masuk ke Aula Balai Desa Wulungsari untuk makan malam.Hujan makin deras setelah kami selesai makan untuk kemudian menuju ke panggung utama mengikuti acara Pembukaan Jambore. Ratusan orang telah berkumpul di depan panggung sementara dari pengeras suara, panitia mengumumkan bahwa acara akan segera dimulai. (bersambung)


Oleh: Wizteguh Nugroos

(Kabargumelar). Tingginya minat masyarakat terhadap minuman kemasan botol plastik, menimbulkan ide kreatif dari seorang perempuan asal Desa Samudra Kulon, Kecamatan Gumelar. Jarsiti adalah seorang Purna Buruh Migran yang melihat dengan cermat peluang kerajinan dari menumpuknya sampah botol plastik yang terbuang begitu saja usai diperas isinya oleh si pembeli.


Gambar 1. Tas Hasil Kreasi Jarsiti
Berawal dari keisengannya bersama suami untuk membuat beberapa kerajinan tangan, mulailah mereka menciptakan Tas Serbaguna berbahan sampah botol plastik. Terhitung dari awal tahun 2015 sudah puluhan tas yang laku dan diminati oleh orang-orang di Desa Samudra Kulon dan beberapa dari tetangga desa. Untuk lebih mempercantik tampilan tasnya, perempuan yang pernah bekerja di negeri farmosa ini menambahkan hiasan dan pernak pernik di setiap itemnya.

Gambar 2. Sedikit pernak pernik menambah cantik
Seiring berkembangnya usaha yang dirintisnya, untuk mengatasi kelangkaan bahan baku, wanita beranak satu ini bermitra dengan pengumpul barang bekas di desanya. “Tadinya botol plastik saya cari sendiri, tapi semakin kesini botol plastik semakin jarang akhirnya saya pesan sama tukang rongsok agar saya tidak kehabisan stok,” tutur Jarsiti.

Botol plastik yang biasa digunakan Jarsiti untuk membuat tas ini adalah botol plastik yang agak tebal sehingga saat dibuat dan di-anyam akan lebih mudah dan tentunya tasnya pun menjadi awet dan tahan lama. “Karena dengan botol yang tebal maka tas akan menjadi lebih kuat dan bisa untuk membawa macam macam barang, tas ini sangat cocok sekali untuk dibawa ke undangan hajatan, atau buat membawa hasil kebun, tergantung modelnya,“ ungkap wanita berkerudung ini.

Gambar 3. Jarsiti sedang membuat Keranjang Penampung Cucian

Proses pembuatannya sendiri terhitung cepat, untuk satu bulannya dia bisa membuat 15 buah tas yang diberi Label Ainun Bag, sementara untuk harga bervariasi dari mulai Rp 50 ribu, Rp 60 ribu dan untuk keranjang khusus penampung cucian harganya bisa sampai Rp 80 ribu. Selain membuat tas untuk dipasarkan sendiri, Jarsiti juga menerima pesanan pembuatan dengan bahan yang dibawa sendiri oleh pemesan. “Ya ada juga yang membawa bahan sendiri kemudian saya disuruh membuatkan sesuai keinginannya, kalo seperti ini saya biasa kasih harga Rp 40 ribu karena saya hanya tinggal menganyam,” tutur Mantan Buruh Migran ini. (WN)
 


kabargumelar.com-  Beberapa waktu lalu, seorang teman bercerita kepada saya, tentang maraknya remaja usia sekolah yang mengkonsumsi obat batuk Komix secara berlebihan, diduga kuat ini adalah tren baru penyalahgunaan obat. Menurut beberapa informasi  yang saya dengar, ada beberapa toko yang mengaku didatangi remaja yang membeli obat batuk Komix, tidak tanggung-tanggung rata rata remaja ini membeli Komix sebanyak satu dus. Sontak ini menimbulkan kecurigaan pemilik toko sehingga untuk pembelian Komix dibatasi hanya boleh membeli 1 sachet saja. Satu dus Komix, bisa dikonsumsi oleh tiga sampai empat orang dengan harga yang murah, selain itu bisa didapatkan dengan cara yang mudah karena dijual secara bebas di pasaran.

Banyaknya konsumsi obat batuk Komix, kemungkinan besar karena selain harganya murah, juga karena sulitnya mendapatkan minuman keras yang harganya juga sudah sangat mahal. "Mungkin juga karena komix kan rasanya enak, ada juga minuman keras yang harganya terbilang murah yaitu ciu, tapi rasanya ngga enak," tutur seorang teman mengenai alasan maraknya konsumsi Komix ini.

Masih menurut teman saya, bahwa obat batuk Komix mengandung Dextrometorfan yang bila dikonsumsi sesuai dosisnya yaitu antara 15 hingga 30 mg tidak berbahaya dan cukup efektif mengurangi batuk. "Namun, bila dikonsumsi melebihi dosis, misalnya lebih dari 200 mg, akan menimbulkan efek kejang, tidak sadar bahkan hingga kematian," tuturnya.

Gambar 1. Bungkus Komix (Gambar dari mbah Google)

Yang lebih mencengangkan lagi adalah medio Agustus sampai September tahun ini, seiring penurunan konsumsi obat batuk Komix muncul fenomena baru yaitu indikasi penyalahgunaan obat penahan rasa nyeri berlabel Tramadol. Terhitung untuk bulan September saja seorang teman yang berprofesi sebagai perawat menuturkan dalam satu minggunya ada sekitar tiga pemuda yang mau membeli obat ini. Alasannyapun berbagai macam, ada yang mau beli buat neneknya, buat ibunya atau tetangganya yang habis melakukan tindakan operasi. "Mereka mendatangi saya kemudian mau membeli tramadol, tapi mereka tidak bisa menunjukan resep dokter sehingga tidak bisa dilayani," ungkapnya.

Tramadol adalah obat yang digunakan untuk menahan rasa sakit setelah operasi bedah. Dan obat ini boleh dikonsumsi harus dengan resep dokter. Dan efek yang diakibatkan jika Tramadol dikonsumsi secara berlebihan adalah mengakibatkan dampak yang di antaranya dapat merusak gangguan pada ginjal dan merusak susunan saraf pusat. Mengerikan!!

Gambar 2. Penampakan Tramadol (Gambar dari mbah Google)

Mengingat begitu seriusnya masalah ini maka perlu sekali perhatian dari berbagai pihak, pengawasan orang tua, masyarakat dan pemerintah, agar generasi penerus bangsa ini bisa terselamatkan dari bahaya penyalahgunaan obat.

Dan menurut beberapa sumber, segala kegiatan penyalahgunaan dan peredaran obat terlarang di Gumelar ini sudah dalam pantauan pihak yang berwajib.(wiz)

Diolah dari berbagai sumber


(GUMELAR). Grebek Suran rutin diperingati oleh warga Desa Tlaga Kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas,  pun demikian di bulan sura tahun ini. Diawali dengan pawai ngarak Tumpeng Raksasa yang dihiasi aneka macam sayur dan buah-buahan. Acara yang dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 3 Oktober 2015 ini resmi dibuka oleh Kepala Desa Tlaga Siti Suyani. Iring iringan warga dan perangkat desa dimulai dari depan Balai Pertemuan Dusun Tipar, menuju ke panggung utama yang berjarak sekitar 500 meter tepatnya di RW 02 Desa Tlaga.


Gambar 1. Persiapan Ngiring Tumpeng
Di panggung utama, sudah siap menyambut dari instansi Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Gumelar, dan ratusan warga masyarakat yang sudah sejak pagi menanti acara dimulai. Sambutan kedatangan iring-iringan Tumpeng Raksasa disampaikan oleh Camat Gumelar Gatot P.U.H.A., S.H., dilanjutkan dengan ritual Pecah Kendi yang terkandung maksud agar di tahun baru ini segala permasalahan bisa terpecahkan dengan sebaik-baiknya.

Gambar 2. Ngiring Tumpeng Raksasa
Selesai ritual penyambutan oleh Camat Gumelar, warga langsung berebut mengambil berbagai macam hasil pertanian yang menutupi sekujur tumpeng, sorak sorai dan tepuk tangan mengiringi warga yang menggerayangi buah dan sayur penghias tumpeng. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian sejarah berdirinya Desa Tlaga. "Dahulu kala memang di sini ada semacam danau, sehingga dinamai Desa Tlaga," demikian Kepala Dusun Suwito memulai menceritakan awal mula berdirinya Desa Tlaga. Diceritakan pula bagaimana perjuangan Eyang Rebo dalam rangka mendirikan Desa yang kelak diberi nama Desa Tlaga ini.

Gambar 3. Penyambutan oleh Camat Gumelar
Di akhir acara ditampilkan hiburan Lengger atau orang Banyumas biasa menyebutnya Ronggeng. Tarian Ronggeng ini ternyata  juga sangat erat hubungannya dengan asal muasal Desa Tlaga, di mana pada saat Eyang Rebo ingin mengumpulkan seluruh warganya, beliau menyajikan tontonan Ronggeng agar menarik warga untuk menghadiri acara yang digagasnya.

Gambar 4. Perwakilan dari Dinporabudpar disambut Panitia Acara



Oleh: Wizteguh Nugroos



(kabargumelar). Lele merupakan jenis ikan yang mudah untuk dipelihara, dengan modal yang tidak terlalu besar bisa meraup keuntungan yang tidak sedikit. Berangkat dari situlah Nur Kholik (32) warga RT 01 RW 01 Desa Gumelar Kecamatan Gumelar memberanikan diri untuk memulai usaha budidaya ikan lele. Di pekarangan berukuran 6 x 8 meter samping rumahnya, berderet tujuh buah kolam terpal yang dibuat untuk memelihara ikan lele. Dari tujuh buah kolam ini, empat buah kolam khusus untuk pembenihan, dan tiga kolam untuk lele siap konsumsi. Pada  setiap kali pembenihan, empat kolam diisi benih sebanyak 10 ribu ekor, sementara untuk lele siap konsumsi biasanya Nur Kholik menaburkan benih sebanyak 5 ribu ekor lele.

Gambar. 1. Benih Ikan Lele
Gambar. 2. Ikan lele untuk Konsumsi
Jenis ikan lele yang dipelihara Kholik (begitu ia sering disapa) adalah jenis lele sangkuriang. “Lele jenis sangkuriang ini terhitung cepat sekali pertumbuhannya,” terangnya. Nur Kholik memulai budidaya ikan lele ini sejak tahun 2013, dan sampai saat ini masih bertahan dengan hasil dan keuntungan relatif meningkat.

Gambar. 3. Nur Kholik memberi pakan Ikan lelenya
Pria berkacamata ini juga menuturkan bahwa dalam budidaya ikan lele, selain harus ulet dan telaten, juga harus mempunyai mitra usaha yang saling menunjang. Tercatat ada 13 petani lele yang bermitra dengan Kholik, mereka tersebar di Desa Gumelar, Karangkemojing, Paningkaban, Samudra Kulon, Tlaga dan juga menjangkau Desa Tipar Kidul yang masuk wilayah Kecamatan Ajibarang. Nur Kholik menuturkan bahwa mitra mitra ini melakukan kerjasama dengan sistem kekeluargaan. “Benih ikannya mereka ambil dari saya, terus untuk pakannya terserah mereka kalo mau ambil sama saya boleh, beli sendiri di toko juga boleh,“ jelasnya.

Gambar. 4. Ada 7 Kolam terpal milik Nur Kholik
Berbeda dengan para mitranya yang sebagian besar berada di wilayah Kecamatan Gumelar, untuk penjualan ikan lele siap konsumsi ternyata Nur Kholik melirik ke daerah Karangpucung dan Sidareja. Dua daerah itu ternyata pangsa pasarnya cukup menjanjikan, sehingga walaupun terhitung jauh dari Desa Gumelar, setiap kali penen hasilnya pasti dikirim ke daerah tersebut. “Permintaan ke daerah sana memang cukup banyak untuk olahan makanan, selain itu juga karena di Desa Gumelar ini belum ada yang membuat olahan kuliner dari ikan lele, padahal banyak sekali makanan yang bisa dibuat dengan ikan lele, saya sendiri sebenarnya pengin sekali tapi saat ini saya belum ada waktu, karena saya juga nyambi membuat jamur tiram,” tutup Nur Kholik.(Wizteguh Nugroos)



(Kabargumelar). Rabu (14/10/15), dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1437 H, Majelis Wilayah Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Gumelar mengadakan acara Pengajian Akbar yang dilaksanakan di Lapangan Desa Kedungurang Kecamatan Gumelar. Ribuan umat Islam di wilayah Kecamatan Gumelar sudah sejak pagi memenuhi Lokasi tempat berlangsungnya acara. Hadir dalam acara tersebut dari Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Gumelar dan seluruh Kepala Desa di wilayah Kecamatan Gumelar beserta para Perangkat Desa.
 
Gambar 1. Muspika dan Tamu Undangan

Acara yang sedianya akan dihadiri Bupati Banyumas ini mengambil tema “Dengan 1 Muharram kita tingkatkan Ukhuwah Islamiyah dan Semangat Kerja membangun Bangsa”. Dan tepat pukul 10.00 WIB, acarapun dibuka oleh Ketua Panitia H. Bisri dari unsur pengurus MWCNU Kecamatan Gumelar. Diawali dengan Pawai taaruf yang diikuti oleh beberapa elemen masyarakat, siswa siswi Sekolah Dasar, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Ibu-ibu Muslimat NU dari seluruh ranting di Kecamatan Gumelar.

Gambar 2. Marching Band Peserta Pawai Ta’aruf

Selesai Pawai Ta'aruf, di depan panggung utama beberapa pengisi acara menampilkan atraksinya masing masing, dari mulai Marching Band, Hadroh dan Kentongan. Turut pula memeriahkan acara tersebut sebuah perusahaan operator seluler dengan memberikan doorprize kepada pengunjung berupa barang-barang elektronik, seperti kulkas, televisi, kipas angin dan lain sebagainya.


Gambar 3. Penampilan para pengisi Acara

Menurut rencana setelah rangkaian acara tersebut selesai, akan dilanjutkan dengan Peresmian Gedung baru MWCNU Kecamatan Gumelar yang terletak tidak jauh dari Lapangan Desa Kedungurang. “Habis acara ini nanti acara Peresmian Gedung MWCNU, dan Peresmian pembangunan SMK Ma’arif NU, rencananya Bapak Bupati yang meresmikan tapi beliau berhalangan hadir karena sedang berduka, ibundanya baru meninggal dunia,” tutur salah seorang panitia. (Wizteguh Nugroos)



(Kabargumelar). Wakam (54) adalah seorang mantan Buruh Migran yang pernah bekerja di Negara Malaysia. Warga RT 07 RW 11 Desa Cihonje Kecamatan Gumelar ini menghabiskan waktu kurang lebih 8 tahun bekerja di Malaysia. Dalam kurun waktu 8 tahun bekerja di Luar Negeri ini, dia sempat 3 kali pulang ke kampung halaman. “Saya merasa bingung kalo di rumah mau mengerjakan apa? Penginnya bikin usaha tapi selalu merasa takut untuk memulai, padahal cita-cita saya saat memutuskan bekerja di luar negeri adalah mencari modal untuk bikin usaha di rumah, akhirnya saya berangkat ke Malaysia lagi dan lagi,” tuturnya.

Wakam sedang melakukan penyemprotan

Dari kebingungan ini kemudian Wakam berfikir bagaimana caranya agar dia bisa ikut berperan positif di bidang Pertanian yang memang menjadi pekerjaannya selepas “Gantung Paspor” Tahun 2004. Akhirnya didampingi oleh Petugas Penyuluh Pertanian Kecamatan Gumelar, tahun 2007 Wakam mulai  membuat usaha pengolahan Pupuk Organik dalam rangka ikut menunjang agar hasil pertanian di lingkungannya menjadi sehat dan lebih baik lagi. “Saya mulai usaha ini tahun 2007, dan alhamdulillah sampai sekarang masih berjalan dan dirasakan manfaatnya oleh para Petani di Desa Cihonje, Gumelar dan sekitarnya,” ungkap Wakam bangga.

Pupuk Organik buatan Wakam ini sudah terbukti membuat hasil Pertanian menjadi lebih baik dari Pupuk Kimia yang selama ini dipakai oleh para petani. “Dengan memakai Pupuk Organik ini, ada bermacam manfaat yang bisa dihasilkan”, Wakam menjelaskan. “Yang pertama adalah tanaman akan bebas dari berbagai macam hama, mengembalikan kesuburan tanah, biaya lebih murah, dan yang terpenting adalah hasil dari tanaman pertanian akan sehat untuk dikonsumsi, karena tanaman tidak membutuhkan semprotan pestisida dan pupuk kimia,” lanjut Wakam.

Menurut keterangan Wakam, untuk membuat Pupuk Organik ini dia memanfaatkan bahan bahan alam yang ada di sekitar rumahnya, dan dalam pengolahannya dengan cara yang masih tradisional. Untuk sekali pembuatan pupuk dia bisa menghasilkan 7 kwintal dalam setengah bulan masa fermentasi. “Mungkin kalo ada mesin penggiling, proses pembuatan ini akan lebih cepat dan efektif, sayangnya saya belum punya mesin penggilingnya,” tutur Wakam mengenai kendala yang dihadapi saat ini.

Wakam juga memberi kesempatan kepada para petani yang lain apabila ingin belajar bersama membuat Pupuk Organik ini dia siap untuk menularkan ilmunya. Selain itu Wakam juga bersedia datang apabila ada petani yang ingin dibuatkan Pupuk Organik di rumahnya dengan bahan-bahan yang disediakan oleh petani tersebut.

Demikianlah bagaimana seorang mantan Buruh Migran ini ikut berperan serta dalam peningkatan hasil pertanian melalui Pupuk Organik. Selain mendapatkan keuntungan secara ekonomi, dia juga mendapatkan berbagai pengalaman dan ilmu serta manfaat untuk orang orang di sekitarnya. (Wizteguh Nugroos)





Info untuk teman teman pegiat dan pengusaha Mikro dan Kecil:
Sekarang untuk membuat Surat Izin Usaha Mikro dan Kecil sangat mudah, teman-teman tinggal mendatangi Kantor Kecamatan setempat dengan membawa persyaratan berupa:
1. Surat Pengantar RT/RW.
2. Foto kopi KTP.
3. Foto kopi Kartu Keluarga.
4. Pas foto 4x6 2 lembar, berwarna.
5. Foto Kopi NPWP (jika ada).
6. Mengisi Formulir (tersedia di Kantor Kecamatan).
Setelah semua persyaratan terpenuhi maka pemohon akan mendapatkan naskah Surat Izin Usaha Mikro dan Kecil yang menjamin legalitas Usaha teman-teman semua.
untuk info lengkap silahkan unduh aplikasi IUMK untuk android via Google Play di sini

[Wizteguh Nugroos]


Kabar Gumelar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget