Terkini

Peserta Lomba Galang Tangguh saat upacara pembukaan, Kamis 10/10


Cilangkap - Gerakan Kwartir Ranting Gumelar menggelar acara Lomba Galang Tangguh 2019 di Lapangan Desa Cilangkap, Kamis 10/10.

Lomba yang dibuka oleh Camat Gumelar Oka Yudhistira Pranyudha, selaku Ketua Mabiran ini diikuti oleh Pramuka Penggalang sebanyak 36 pangkalan SD/MI, 6 SMP/MTs se- kwarran Gumelar, peserta meliputi 42 regu putra dan 42 regu putri.

Menurut Riswo Mulyadi selaku ketua panitia, berbagai macam lomba dilaksanakan pada kegiatan tersebut.

 " Untuk lomba ada beberapa macam diantaranya smapoore, morse, sandi, PU, PK, pioneering, PPPK, pengetahuan doa, kim penglihatan, menaksir, peta panorama, dan yel- yel," katanya.

Riswo juga mengapresiasi dukungan warga Desa Cilangkap pada kegiatan ini, dimana warga menyediakan makanan dan minuman kepada peserta lomba di sepanjang rute yang dilewati.

"Kami selaku panitia sangat berterima kasih, dengan sukarela dan tanpa diminta warga menyediakan makanan dan minuman di sepanjang jalan. Sekali lagi terima kasih kepada seluruh warga Cilangkap," tutupnya.(wizteguhnugroos)

Kepala Desa Samudra saat membuka acara


Samudra - Komunitas pemuda Renggong Bersatu (Reber's) Desa Samudra Kecamatan Gumelar merayakan hari jadi mereka yang ke- 13, Minggu 29/09 di halaman Poliklinik Kesehatan Desa (PKD) komplek Balai Desa Samudra.

Acara yang menggandeng Karang Taruna Muda Utama Sakti RW 6 Desa Samudra ini menyajikan berbagai kegiatan diantaranya jalan sehat, pameran seni, cek kesehatan gratis dari siswa -siswi SMK Maarif NU 2 Ajibarang dan penggalangan dana untuk pembangunan Musala Nurul Iman.

Ratusan warga mengikuti jalan sehat yang dimulai pukul 8 pagi dan dilepas oleh kepala desa didampingi oleh Babinkamtibmas, tokoh masyarakat dan perangkat desa Samudra. Rute jalan sehat sendiri melalui jalan desa mengelilingi permukiman warga Dusun Renggong dengan start dan finish di depan Poliklinik Kesehatan Desa.

Menurut Fajar Ismanto, ketua penyelenggara, bahwa kegiatan ini dimaksud untuk menggali potensi generasi muda Desa Samudra dalam kreativitas dan karya inovatif.

"Selain jalan sehat, kegiatan ini juga ada pameran seni seperti kerajinan dari batok kelapa, lukisan dengan media kaca atau grafir dan lukisan cat warna. Harapannya akan memberi motivasi kepada kreator- kreator muda lebih giat untuk berkarya," jelasnya.

Kepala Desa Samudra, Kristiono mengapresiasi ide kreatif para pemuda di wilayahnya dalam menggelar acara, bukan hanya berbentuk ceremonial namun juga memberi manfaat kepada warga sekitar.

"Terima kasih kepada para pemuda Reber's, sudah menyelenggarakan acara ini, karena bukan hanya kegiatan jalan sehat dan pameran seni tapi ada juga cek kesehatan gratis. Selain itu ada pula stan untuk sosialisasi stunting yang saat ini menjadi fokus pemerintah dalam penanganan masalah stunting. Penanganan stunting penting sekali demi pertumbuhan anak- anak generasi penerus bangsa," ungkapnya.

Slamet Susilo salah seorang tokoh masyarakat Desa Samudra menyambut baik kegiatan ini. "Sangat bermanfaat bagi masyarakat, semoga kegiatan ini berlanjut dan menjadi ajang kreativitas pemuda," katanya.

Sampai siang hari warga masih antusias mengikuti acara pengundian hadiah sambil dihibur penampilan organ tunggal dan bintang tamu dari kota Purwokerto. Hadiah utama adalah dua ekor kambing dan puluhan hadiah hiburan lainnya.(wizteguhnugroos)

Pemain ISTAC saat bertanding di Kejurprov 

Cilangkap - Ikatan Sepak Takraw Cilangkap (ISTAC) merupakan satu- satunya klub sepak takraw yang ada di wilayah Kecamatan Gumelar. Berdiri  sejak 19 tahun yang lalu, ISTAC semakin diperhitungkan di kancah sepak takraw Kabupaten Banyumas.

Pemain binaan ISTAC kerapkali dipanggil untuk memperkuat tim sepak takraw kabupaten guna mengikuti kejuaraan berlevel provinsi maupun nasional. Beberapa kali meraih penghargaan pada kejuaraan yang diikuti.

Setiap hari, para pemain binaan ISTAC berlatih di lapangan sepak takraw yang berlokasi di RT 2 RW 2 Desa Cilangkap dengan dua orang pelatih lokal, Karseno dan Wiyoso.

"Saat ini ada kurang lebih 30 anak  yang mengikuti latihan di sini, ada yang dari Desa Gumelar, Samudra, Tlaga, mulai dari siswa sekolah dasar sampai SMA," terang Karseno.

Untuk memantau perkembangan para pemain, setiap bulan diadakan evaluasi oleh tim pelatih.

"Evaluasi rutin tiap bulan meliputi passing, smash, servis, game dan kedisiplinan untuk memantau kemajuan dari masing- masing pemain," jelas Karseno.

Meski sudah meraih berbagai prestasi, terutama dalam pembibitan pemain, namun perhatian dari pemerintah desa dan kecamatan masih jauh dari harapan. Lapangan untuk berlatih, fasilitas bola dan jaring masih menggunakan dana pribadi para pengurus dan iuran pemain.

"Seharusnya saat berlatih, satu pemain satu bola, namun karena keterbatasan dana, saat ini dua bola dipakai bergantian. Selain itu, pemain juga perlu berlatih pada malam hari di bawah sorot lampu, agar saat bertanding pada malam hari sudah terbiasa, tapi lapangan kami belum ada lampunya," kata Karseno yang sekarang didapuk oleh PSTI Banyumas menjadi pembina sepak takraw wilayah Kecamatan Gumelar bersama Wiyoso.

Dituturkan oleh Karseno bahwa beberapa kecamatan yang punya potensi sepak takraw bagus seperti Sumpiuh, Rawalo, Kemranjen sudah ada perhatian dari pemerintah setempat.

"Tim dari kecamatan lain itu kalau mengikuti turnamen mereka rombongan menggunakan bis, selain ada sponsor juga ada perhatian dari pemerintah yang menyokong kegiatan mereka. Mudah- mudahan ke depan Gumelar juga seperti itu," ungkapnya.

Di tengah minimnya perhatian pemerintah terhadap pembinaan bibit pemain sepak takraw di Gumelar, salah satu pemain putri binaan ISTAC berhasil lolos pada seleksi atlet Pemusatan Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLOP) Provinsi Jawa Tengah. Adalah Zulfa Eka Nurkarisma (14) siswa SMP Negeri 1 Gumelar, telah diterima di program seleksi PPLOP tahun 2019. Saat ini Zulfa tengah berada di balai PPLOP guna mengikuti pelatihan dan pindah sekolah di Semarang dengan biaya ditanggung pemerintah.

PPLOP merupakan program seleksi atlet pelajar melalui Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar)Jawa Tengah, dimana setiap atlet yang diterima akan mendapatkan fasilitas asrama, sekolah, makan dan uang saku. Selanjutnya akan menjadi atlet yang membela Jawa Tengah terutama saat Popnas.

"Buat adik- adik yang berminat untuk berlatih sepak takraw, kami sangat terbuka untuk siapa saja, silakan datang langsung ke sekretariat ISTAC di RT 2 RW 2 Desa Cilangkap," lanjut Karseno.

Saat ini ISTAC turut ambil bagian dalam Liga Sepak Takraw Banyumas 2019. Meski dengan dana pas-pasan, mereka mengirim empat tim untuk mengikuti turnamen, Oktober mendatang memasuki putaran ke empat yang berlangsung di GOR Satria Purwokerto.

"Kami mengirim empat tim mengikuti liga, untuk tim senior kami targetkan masuk final, sementara bagi yang junior, hitung- hitung menimba pengalaman," tutup Karseno.(wizteguhnugroos)
------
*bagi anda yang ingin berpartisipasi untuk kemajuan sepak takraw di wilayah Kecamatan Gumelar atau berminat untuk berlatih sepak takraw, bisa menghubungi nomor WA :
(082221073796 & 085799010717)

Eddy Pranata saat tampil di sebuah acara


Cihonje - Ketua Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Desa Cihonje Kecamatan Gumelar,  Banyumas, Eddy Pranata PNP mendapat undangan mengikuti dua acara Festival Sastra Internasional. Undangan diterima setelah puisi yang dikirimnya lolos kurasi di dua festival tersebut.

Eddy Pranata lolos kurasi Festival Internasional Gunung Bintan yang akan dilaksanakan tanggal 28 Oktober sampai dengan 1 November 2019 di Tanjung Pinang Provinsi Kepulauan Riau. Ia juga lolos kurasi di Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival yang akan digelar tanggal 29 November sampai dengan 1 Desember 2019 di kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

“Bersyukur sekali saya, yang tinggal di pelosok desa, bisa diundang mengikuti festival sastra bertaraf nternasional,” kata Eddy Pranata. “Semoga ini menjadi pertanda bahwa sastra benar-benar telah menjelajah dunia," lanjutnya.

Puisi yang mengantarkan Eddy Pranata ke Festival Sastra Gunung Bintan itu berjudul “Aku Mengejarmu dengan Sesekali Terguling dan Terluka”. Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2019 dan Hari Puisi Indonesia 2019 Kepulauan Riau itu diprakarsai oleh Yayasan Jembia Emas dan Dewan Kesenian Kepulauan Riau dengan dukungan Dinas Kebudayaan Kepulauan Riau, Dinas Pariwisata dan Budaya Pemkot Tanjung Pinang dan Pemerintah Kabupaten Bintan.

Untuk menandai perhelatan tersebut, panitia akan menerbitkan buku antologi puisi Jazirah 2 dengan tema “Segara Sakti, Rantau Bertuah” (Jazirah Melayu dalam Puisi).

Salah seorang penggagas acara, Rida K Liamsi menyebutkan, "Segara Sakti Rantau Bertuah" adalah nama lain dari kawasan Maritim yang terbentang dari Laut Cina Selatan, Selat Melaka sampai ke Selat Karimata. Sejak beratustahun lalu, kawasan itu menjadi pusat pelayaran, perdagangan dan pusaran sejarah kemaharajaan Melayu serta pertembungan kebudayaan Melayu dengan kebudayaan dunia lainnya.

Festival Sastra Gunung Bintan ini akan dihadiri para penyair Negeri Serumpun (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darusssalam, Thailand, Miyanmar, Kamboja dan Vietnam).

Sementara itu, puisi yang mengantarkan Eddy Pranata ke Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival berjudul “Apel dari Kebun dalam Dirimu. ”Festival ini adalah festival sastra independent yang secara parsial didanai oleh Pemerintah Kota Banjarbaru dan pihak-pihak lain yang mempunyai kepedulian yang sama. 

Acara ini diselenggarakan dengan kerjasama luas antara lembaga dan individu yang peduli dengan perkembangan dan pembacaan puisi, pembacaan cerita pendek, serta pemutaran film. Selain itu untuk meluaskan ruang sastra, akan ada pagelaran musik dan tari. Pada bagian yang lain turut pula ditampilkan seminar sastra, konferensi dan pameran arsip sastra.

Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival bertujuan mempromosikan Sastra Indonesia dan Serumpun, Puisi dan Prosa, mengangkat potensi Kota Banjarbaru sebagai Kota Sastra dan titik pijar Budaya. Lebih lanjut untuk mengembangkan diri menjadi Festival yang bersifat tetap, tahunan dan berjangkauan internasional.

Sebuah langkah untuk merangkai satu struktur yang efisien dan memungkinkan kerjasama antara unsur-unsur masyarakat sipil, pihak-pihak swasta, organisasi-organisasi di level nasional dan internasional, sekaligus untuk menjalin kerjasama produktif dengan pihak-pihak di daerah, termasuk pemerintah daerah.(wizteguhnugroos)

Jamaah Salat Istisqo sedang mengikuti khutbah

Gumelar - Ribuan Warga Gumelar pagi ini Minggu 22/09 melaksanakan salat istisqo di Lapangan Desa Gumelar yang digelar oleh Musyawarah Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gumelar.

Musim kemarau yang berlangsung saat ini mengakibatkan hampir seluruh wilayah di Kecamatan Gumelar kekurangan air bersih dan mengalami kekeringan. Berangkat dari situlah kemudian MWCNU dengan berbagai elemen organisasi seperti Ansor, Banser, Muslimat, Fatayat, IPNU, IPPNU menggelar salat Istisqo untuk meminta segera turun hujan.

Agus Muslim selaku ketua panitia mengungkapkan terima kasih atas dukungan dari berbagai pihak dalam menunjang kelancaran acara.

"Terima kasih kepada pemerintah desa, kecamatan dan semuanya yang sudah bersama- sama dengan niat baik melaksanakan salat istisqo, dan sangat berharap semoga Alloh Swt segera memberikan hujan," katanya.

Sementara bertindak selaku imam dan khotib salat adalah Rois Suriyah Nahdlatul Ulama Kecamatan Gumelar, KH. Akhmad Ridwan, S.Pd.

Selepas salat, dilaksanakan Tabligh Akbar dengan menghadirkan 10 ustaz diantaranya H. Mujamil, Riswo Mulyadi, Akhmad Khambali, Masrokhan, Adurrokhman, Abu Bakar, Nasirudin dan Akhmad Suwandar.(wizteguhnugroos)

Warga saat membersihkan sampah di sungai dalam aksi WCD

Gumelar - Aksi bersih- bersih sampah dalam rangka World Clean up Day 2019 tingkat Kecamatan Gumelar dilaksanakan Sabtu 21/09.

Acara diawali dengan apel bersama Formompinkec dan seluruh dinas instansi, Korwil Dindik, guru, Linmas, Pramuli, Karang Taruna, para kepala sekolah dan siswa- siswi sekolah dasar hingga tingkat lanjut di wilayah Kecamatan Gumelar.

Selepas apel persiapan World Clean up Day, dilanjutkan dengan aksi bersih- bersih sampah dengan lokasi meliputi lingkungan kantor, masjid, permukiman warga, sungai dan sepanjang jalan raya.

Sinung Tri Marhaendro selaku koordinator WCD Kecamatan Gumelar mengungkapkan terima kasih kepada seluruh peserta aksi, sehingga acara sukses digelar.

" Mudah- mudahan aksi bersih- bersih ini bukan hanya dilakukan pada saat World Clean up Day, namun juga akan terus berlanjut sehingga akan menunjang pada kesehatan kita semua dan kinerja lebih maksimal, pokoknya sehat dan sehat," ungkapnya.

Sementara Slamet, seorang warga yang mengikuti aksi bersih- bersih di bawah jembatan Sungai Tajum mengungkapkan kekesalannya pada warga yang membuang sampah di sungai.

"Kami mohon kepada warga jangan membuang sampah di sungai karena dampaknya tidak baik bagi kesehatan kami warga yang bertempat tinggal dekat dengan sungai. Kepada pemerintah  desa, kabupaten dan provinsi mohon untuk membuat penampungan sampah di kecamatan kami, tiap desa satu sehingga bisa mengatasi persoalan sampah," katanya.

Sungai memang menjadi tempat favorit membuang sampah. Biasanya, dengan mengendarai sepeda motor, mereka melemparkan sampah yang dibungkus kantong plastik dari atas jembatan.
(wizteguhnugroos)

Kepala Desa Tlaga beserta rombongan sampai di lokasi acara

Tlaga - Grebeg Sura Desa Tlaga tahun ini dipusatkan di Grumbul Tlaga Desa Tlaga Kecamatan Gumelar, Kamis siang, 12/09. Dihadiri oleh Camat Gumelar, Kapolsek, Danramil, kepala desa se- Kecamatan Gumelar, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tamu undangan lainnya, Grebeg Sura berlangsung meriah.

Acara diawali pelepasan iring - iringan kepala desa yang diikuti seluruh perangkat desa dan warga. Peserta rombongan beriringan membentuk barisan dan membawa tumpeng raksasa yang dibuat dari sayur - mayur, buah- buahan dan padi. Hasil bumi lainnya dibawa oleh peserta iring- iringan  menggunakan tenong yang disunggi di atas kepala. Di sebelah kepala desa, tampak salah satu warga membawa kendi berisi air putih.

Rombongan lalu berjalan kaki sepanjang 500 meter menuju lokasi acara dengan diiringi musik tradisional kentongan. Sampai di lokasi, rombongan disambut oleh Camat Gumelar Oka Yudhistira Pranayudha. Selanjutnya penyerahan kendi dari rombongan untuk kemudian dilakukan prosesi acara pecah kendi dengan di benturkan ke atas tanah oleh Camat Gumelar. Pecah kendi merupakan simbol bahwa segala permasalahan bisa dipecahkan dan diselesaikan.

Setelah ditutup dengan doa, barulah kemudian gunungan tumpeng raksasa berisi sayur- mayur dan hasil bumi ini menjadi rebutan. Warga berebut untuk mendapatkan sebanyak- banyaknya sayur maupun buah dari tumpeng raksasa tersebut.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Tlaga Riswoto, S.Pd.I mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia dan tamu undangan yang hadir.

" Terima kasih yang sebesar- besarnya kepada panitia penyelenggara dan para tamu undangan, kami berharap dukungan semua pihak agar acara ini terus bisa dilaksanakan setiap tahunnya. Selain untuk menghormati para leluhur juga kami berharap ini bisa menjadi wisata baru di Desa Tlaga," katanya.

Sementara itu Camat Gumelar, Oka Yudhistira mengapresiasi kegiatan budaya yang digelar oleh pemerintah desa Tlaga.

" Ini acara yang harus terus dilestarikan, harus terus dilaksanakan di tengah zaman modern seperti sekarang. Saat ini acara budaya tradisional sudah semakin tergerus oleh budaya - budaya modern, jadi ayo kita sama - sama lestarikan budaya dan kesenian kita," ungkap Oka.

Sebelumnya, ketua panitia Suwito mengungkapkan bahwa acara suran kali ini lebih meriah dari tahun- tahun sebelumnya.

" Alhamdulillah, Grebeg Sura tahun ini lebih tertib, lebih meriah dari sebelumnya. Masyarakat sangat antusias mengikuti rangkaian acara dari mulai ziarah ke makam Eyang Rebo, sembelih kerbau, Istighosah dan hari ini di acara puncak suran," jelasnya.

Usai acara sambutan- sambutan, dilanjutkan dengan pentas kesenian Lengger dari grup Lengger asal Desa Tlaga.(wizteguhnugroos)



Ziarah di makam Eyang Rebo

Tlaga - Rabu, 18/09 dalam rangkaian acara Grebeg Sura Desa Tlaga Kecamatan Gumelar, warga Desa Tlaga melakukan ziarah ke makam leluhur pendiri Desa Tlaga, Eyang Ranukertawijaya atau sering disebut Eyang Rebo.

Dipimpin oleh Darko tokoh agama setempat, ziarah dilakukan mulai pukul 10.00 WIB. Kepala Desa Tlaga, Riswoto bersama seluruh perangkat desa berbaur bersama warga, berdoa di area pemakaman Panggung Wangi tempat disemayamkannya Eyang Rebo dan keluarga.

Eyang Rebo atau eyang Ranukertawijaya merupakan tokoh yang membuka dan mendirikan perkampungan yang lantas disebut Desa Tlaga.

Setelah acara ziarah, kemudian dilaksanakan acara ramah tamah di musala Panggung Wangi yang lokasinya masih di area pemakaman, selanjutnya makan bersama sebagai bentuk rasa syukur terhadap rezeki yang diberikan Tuhan yang maha esa.

Menurut Sekretaris Desa Tlaga, Kismo, acara ziarah ini rutin dilakukan setiap tahun dalam rangka mendoakan para leluhur.

"Inti acara ini adalah mendoakan para leluhur pendiri desa sekaligus mengenang dan memperkenalkan sejarah berdirinya desa kepada generasi muda," ungkapnya.

Malam harinya, akan dilaksanakan acara istighosah di Balai Desa Tlaga dan esoknya, Kamis 19/09, digelar puncak kegiatan Grebeg Sura dengan menampilkan iring-iringan pembawa hasil bumi, gunungan tumpeng dan pentas seni lengger, yang akan berlangsung mulai pukul 08.00 WIB.

Sebelumnya dilakukan juga ritual sembelih kerbau yang dagingnya dibagikan kepada warga Desa Tlaga.(wizteguhnugroos).

Kabar Gumelar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget